WATCHOUT! PENCEGAHAN MUSIBAH SAAT NAIK GUNUNG

Pencegahan Leg Cramp
Leg cramps/ terkilir sangatlah berbahaya khususnya keteika sedang naik gunung, beberapa penyebabnya adalah kurangnya berolahraga sebelum muncak. Biasakan olahraga minimal 2x seminggu agar otot tidak kaku. Selain itu biasakan untuk pemanasan terlebih dahulu sebelum memulai muncak. Hindari berlari Ketika muncak, dan terakhir adalah minum air yang cukup

Mengatasi Leg Cramp
Ketika kaki terkilir, kaki akan mengencang dan terasa ototnya ketarik. Hal ini akan menyebabkan korban susah bergerak. Cara mengatasinya adalah dengan membaringkan tubuh korban dan meluruskan kakinya hingga ototnya melemas. Apabila keramnya berada di otot bawah lutut. Teman anda bisa mendorong telapak kaki kearah wajah korban. Apabila otot diatas diatas lutut, dorong kaki yang sudah diluruskan tadi hingga 45 derajat, oleskan counterpain pada daerah yang keram, dan istirahatlah sejenak

Mencegah Dehidrasi
Manajemen air. Sebaiknya cari tau sumber air pada gunung yang akan kamu daki. Hal itu bertujuan agar kamu mudah memanajemen dan memperhitungkan stok air yang akan kamu bawa, dan tidak kekurangan air yang akan menyebabkanmu dehidrasi.

Mengatasi Dehidrasi
Konsumsi makanan yang mengandung air. Untuk meredakan dehidrasi anda bisa mengkonsumsi makanan yang mengandung air seperti buah buahan. Buah buahan yang mengandung banyak air diantaranya seperti melon, tomat, semangka.

Pencegahan Hipotermia
Jagalah tubuh anda tetap kering, lakukan gerakan sederhana untuk menjaga kalor dalam tubuh agar tetap panas, hindari minuman yang mengandung alcohol atau kafein, serta konsumsilah minuman dan makanan hangat.

Penanganan Hipotermia
Pindahkan korban ke tempat kering dan lebih hangat, ganti pakaian hangat ke tubuh korban usahakan korban tetap sadar dan beri minuman hangat serta selimuti tubuh korban, hindari penggunaan air panas dan alat pemanas karena akan menyebabkan detak jantung yang tidak teratur.

PENGETAHUAN DASAR SINGLE ROPE TECHNIQUE (SRT)


Salam Lestari !! Hai sobat kali ini kami ingin berbagi sedikit ilmu tentang pengetahuan dasar SRT..  Yuk langsung aja


DIFINISI SRT (SINGLE ROPE TECHNIQUE)
Dalam bahasa Indonesia berarti teknik satu tali, bisa diartikan dengan keahlian bergerak baik itu di lintasan vertical ataupun horizontal dengan menggunakan satu tali. Berbeda dengan rock climbing yang dipadu dengan keahlian memanjat ataupun pengetahuan tentang goa pada caving. Seorang yang menguasai teknik SRT bisa bergerak hanya menggunakan tali bagaimanapun sulit dan rumitnya sebuah medan. Oleh karena itu seseorang yang sering berkegiatan di alam bebas seperti climber, caver dan sebagainya sedikit banyak harus menguasai teknik ini.

Jika menggunakan satu tali disebut Single Rope Technique (SRT) maka menggunakan dua tali untuk bergerak disebut Double Rope Technique (DRT), DRT biasa digunakan untuk pekerjaan memanjat pohon (tree climbing) untuk ditebang atau untuk keperluan lain. DRT sangat bagus untuk melatih gerakan dasar dalam memanjat tali, Bagi anak-anak yang memiliki badan tidak terlalu berat sangat mudah memanjat menggunakan system DRT ini dan akan sedikit kesulitan untuk orang dewasa yang memiliki berat badan berlebih. Tetapi pada artikel kali ini penulis hanya membahas masalah SRT, untuk DRT akan penulis bahas di kesempatan yang lain.
SRT yang biasa diterapkan di bidang olahraga alam seperti Rock Climbing mempunyai standar yang sangat berbeda dengan SRT untuk pekerjaan – pekerjaan diketinggian seperti Rope Access. Bekerja di ketinggian seperti membersihkan gedung, instalasi tower pembangkit listrik, pengeboran minyak dan sebagainya memiliki standar keamanan yang lebih tinggi dari pada prosedur SRT dibidang olahraga. SRT dalam bekerja di ketinggian tidak boleh ada kesalahan walau sekecil apapun (zero percent error) semua harus sesuai dengan prosedur teknis dan standar keamanan yang telah ditetapkan dan itu berlaku umum di seluruh dunia.
Contoh sederhananya dalam proses ascending atau descending dalam panjat tebing anda masih bisa benar-benar bergantung pada satu tali tetapi hal seperti itu tidak berlaku untuk melakukan pekerjaan di ketinggian. SRT untuk pekerjaan di ketinggian wajib menggunakan dua tali. Satu tali inti untuk melakukan pekerjaan satu tali lagi sebagai pengaman cadangan (backup). Umumnya setiap perusahaan yang membutuhkan pekerja dengan keahlian akses tali (rope eccess) untuk melakukan pekerjaan di ketinggian haruslah orang-orang yang telah mengikuti pelatihan dan bersertifikasi resmi yang diakui baik tingkat nasional maupun internasional.

SISTEM DALAM SINGLE ROPE TECHNIQUE (SRT)
Hampir semua kegiatan yang menggunakan satu tali untuk melintas masuk dalam SRT. Bukan saja dalam proses manjat memanjat, kegiatan seperti ascending prusiking, descending prusiking, rappelling, jumaring ataupun flying fox juga masuk kategori ini. Ada banyak system yang digunakan dalam SRT namun untuk di Indonesia yang paling populer adalah Frog Rig System.
Secara garis besar ada 6 (enam) system dalam SRT yang biasa digunakan di berbagai Negara, antara lain :

  1. Texas System
  2. Rope Walker System
  3. Michele System
  4. Floating Cam System
  5. Jumar System
  6. Frog Rig System
    Dinamakan Frog Rig System sebenarnya lebih mengacu pada gaya atau bentuk gerakan saat meniti tali, gerakan pada frog rig system lebih menyerupai gerakan seekor katak, maka dinamakan demikian. Tetapi hal itu juga berpengaruh terhadap jenis peralatan yang digunakan.
    Untuk di Indonesia system yang paling banyak dipakai oleh pemanjat tebing (climber) ataupun penyusur goa (caver) adalah Frog Rig System. Mungkin karena system ini dianggap paling mudah digunakan, paling nyaman dan juga memiliki tingkat keamanan yang tinggi.
    PERALATAN SRT PADA FROG RIG SYSTEM
    Setidaknya ada 10 (sepuluh) peralatan utama yang digunakan pada system ini di luar penggunaan tali dan peralatan untuk anchor, diantaranya adalah :

SEAT HARNESS
Seat harness atau harness duduk adalah alat yang digunakan untuk menghubungkan tali utama dan tali backup dengan tubuh, digunakan dipinggang ke pangkal paha, kenyamanan saat bergerak juga ditentukan oleh pemilihan harness yang sesuai dengan tubuh. Selain itu seat harness juga berfungsi sebagai tempat menggantung peralatan lain yang diperlukan.

CHEST HARNESS
Chest harness sama dengan seat harness tetapi kalau seat harness di gunakan di pinggang maka chest harness digunakan di dada. Fungsinya adalah sebagai tempat meletakkan chest ascender juga berfungsi agar posisi tubuh lebih nyaman saat berada diatas tali. Chest harness yang baik adalah yang bisa diatur panjang pendeknya (adjustable)sehingga mudah untuk di operasikan.

Chest Ascender adalah salah satu alat ascending yang khusus dipasang di bagian dada yaitu di Chest Harness dipergunakan untuk memanjat lintasan tali yang terpasang di dada. Chest ascender ini dihubungkan Delta MR melalui Oval MR

HAND ASCENDER
Hand Ascender juga alat yang digunakan untuk meniti tali, perbedaan dengan chest ascender adalah hand ascender tidak di letakkan di dada tapi dipegang dengan tangan, oleh karena itu secara bentukpun agak sedikit berbeda. Contoh hand ascender adalah jumar. Alat ini dihubungkan dengan Foot Loop dan Cows Tail.

Dalam bahasa inggris disebut Self-Breaking Descender adalah sebuah alat descender multi fungsi yang memungkinkan penggunanya memegang kendali penuh saat proses menuruni tali, Ada banyak jenis descender di pasaran salah satunya ID’S dari Petzl.

MAILON RAPID (MR)
Mailon Rapid sering disebut MR adalah sejenis carabiner khusus yang digunakan untuk menghubungkan peralatan SRT, ada 2 jenis MR antara lain Oval MR dan Delta MR. Oval MR berfungsi untuk mengaitkan Chest Ascender ke Delta MR, Sedangkan Delta MR memiliki beberapa fungsi diantaranya untuk mengaitkan 2 loop seat harness, sebagai tempat untuk mengaitkan desender serta carabiner friksinya dan juga tempat mengaitkan cowstail.

COWSTAIL
Cowstail adalah sebuah tali yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk dua tali dengan ukuran panjang dan pendek. Biasa dibuat dari tali dinamis yang disimpul. Untuk tali yang panjang ukurannya kira-kira sejangkauan tangan. Ujung yang panjang ini di hubungkan ke Hand Ascender. Sedangkan tali yang pendek dibiarkan bebas, biasa baru digunakan saat melewati lintasan tertentu sebagai pengaman.

FOOT LOOP
Fungsi dari Foot Loop adalah sebagai tempat pijakan kaki saat meniti tali, dicantolkan ke carabiner yang ada pada Hand Ascender seperti Jumar. Foot Loop ini terbuat dari tali carmantel dengan simpul Bowline.

Berfungsi sebagai alat pengaman yang dipasang di tali kedua untuk pengaman cadangan, salah satu yang paling populer adalah produk dari Petzl yaitu Petzl Asap Fall Arrester. Cara kerja alat ini adalah akan menggunci otomatis saat tali menegang.

HELM
Untuk meminimalisir kecelakaan di kepala seperti terbentur oleh benda-benda keras yang jatuh dari atas ataupun terbentur dengan benda-benda lain disekitar area kerja, yang disebabkan oleh faktor alam ataupun kelalaian manusia, penggunaan helm menjadi sebuah keharusan.

TEKNIK YANG HARUS DIKUASAI DALAM SRT
Seseorang harus mengikuti pelatihan resmi untuk bisa menguasai teknik ini. IRATA adalah salah satu penyelanggara untuk pelatihan rope access berlicency international. Namun untuk keperluan olahraga anda bisa belajar dari sudah berpengalaman, karena secara garis besar dalam SRT hanya ada dua teknik yang harus di kuasai yaitu Ascending dan Descending yang membuat rumit adalah medannya, terkadang untuk bisa mengakses area tertentu dibutuhkan peralatan khusus dan keahlian yang tinggi dengan berbagai pengembangan teknik yang sempurna.

Pupuk Kompos Oxygen-16

Salam Lestari!!

Hai sobat.. Jadi oxygen-16 ingin memperkenalkan pupuk kompos buatan oxygen-16

1. Jenis kompos yang diproduksi oxygen-16 apa saja?
Aerob = Kompos dengan aerasi udara
Anaerob = Kompos tanpa aerasi udara

2. Cara pembuatannya bagaimana?
Aerob = Mencampur dedaunan kering dengan larutan bakteri EM4 yang sudah dipreparasi selama semalam dengan air dan gula, lalu didiamkan dan dirawat secara berkala di composting barrel milik Oxygen-16

Anaerob = Mencampur dedaunan kering dengan larutan bakteri EM4 yang sudah dipreparasi selama semalam dengan air dan gula, lalu dipendam dan dirawat secara berkala di lingkungan Teknik Kimia

3. Tujuan produksinya Pupuk kompos?

Mereduksi kuantitas dari sampah organik yang ada di sekitar lingkungan Teknik Kimia Universitas Diponegoro dan memanfaatkannya menjadi pupuk kompos yang memiliki nilai guna dan nilai jual lebih, yang kemudian akan dibagikan kepada civitas akademika Teknik Kimia dan masyarakat sekitar sebagai sebuah bentuk edukasi mengenai composting

4. Lokasi produksi kompos?
Aerob = Composting barrel diantara gedung C 1.2 dan Parkiran
Anaerob = Lahan Gedung B Teknik Kimia Universitas Diponegoro

5. Perawatannya gimana?
Dilakukan pengecekan dan pengadukan kompos setiap seminggu sekali

“Karena yang cantik dan ganteng cuma anak oxygen-16”

Waspada! Virus Corona Masuki Tahap Pandemi!

Salam lestari!

Hai sobat, pasti sudah tidak asing lagi, kan, dengan COVID-19 alias virus corona? Virus corona saat ini tengah menjadi momok di seluruh dunia dan belum berhasil ditemukan solusinya. Kini, setiap negara tengah berperang mati-matian melawan virus ini. Kebijakan demi kebijakan terus ditetapkan, mulai dari social distancing, lock down, hingga karantina massal.

Continue reading “Waspada! Virus Corona Masuki Tahap Pandemi!”

Mengapa Bunga Edelweiss Dilarang Untuk Dipetik?

Salam Lestari!

Halo sobat pendaki, setiap menaiki suatu gunung pasti kalian tidak asing dengan penampakan tumbuhan yang ada pada gambar di atas kan? Tumbuhan tersebut, atau yang lebih familiar disebut sebagai bunga Edelweiss, merupakan salah satu tumbuhan yang terkenal akan keindahan, khasiat, dan maknanya. Bunga ini dapat ditemukan hamper di seluruh pegunungan aktif yang ada di Indonesia, seperti Gede-Pangrango, Merbabu-Merapi, dan lainnya.

Continue reading “Mengapa Bunga Edelweiss Dilarang Untuk Dipetik?”